Uncategorized

All posts in the Uncategorized category

Wise dialogue of my scenario [part 1]

Published April 3, 2011 by whitecoppy

Kama masuk ke rumah sambil menangis. Noon melihat Kama, lalu melihat Kenta dengan pandangan marah.

Kenta : “Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu? Apa kau masih tidak merasa bersalah?” (marah)
Noon : “Aku tidak asal mengajak Kama. Aku sudah jamin kalau dia tidak akan dimarahi guru. Aku juga sudah memberi tahu kepala sekolah kalau dia pergi denganku. Jadi kalau kakak khawatir Kama akan dimarahi kakak tenang saja itu tidak akan terjadi. Lalu sekarang apa lagi yang salah?”
Kenta : “Semua! Jelas saja semua yang kalian lakukan hari ini salah! Aku tidak tahu dan tidak peduli bagaimana kau dididik, aku juga tidak peduli kalaupun Kama dimarahi guru karena dia salah, karena itu memang seharusnya. Apa tidak pernah ada yang memberitahumu kalau membolos itu adalah hal yang salah? Untuk alasan apapun, membolos tanpa alasan yang penting itu sangat salah! Mengerti?!”

Noon diam saja dan membuang muka, Kenta menghela nafas dan mencoba menenangkan diri.

Kenta : “Noon, aku benar-benar kecewa padamu. Awalnya aku percaya padamu, karena aku yakin kau sangat menyayangi adikku dan tahu apa yang terbaik untuknya. Awalnya juga aku merasa tenang untuk pergi melanjutkan sekolah ke luar negeri, karena kupikir kau bisa menjadi penggantiku untuk menjaga Kama dan kakek. Tapi sepertinya aku salah besar. Aku salah besar karena sudah terlalu mempercayaimu. Noon, aku tidak membencimu, aku hanya kecewa padamu. Sekarang kau pulanglah dan beristirahat, bukankah besok kau harus berangkat ke Jepang? Selamat malam.” (menepuk pundak Noon pelan lalu masuk ke rumah)

Noon sangat jengkel. Dia memukul kap mobilnya untuk melampiaskan emosi, lalu dia masuk ke mobilnya dan pergi. Sementara itu Kama duduk di meja makan sambil menangis. Kenta mengambil air putih untuk Kama, lalu duduk di sebelah Kama. Kama langsung menatap Kenta dengan penuh kebencian dan matanya sudah sembab.

Kama : “Kenapa kakak bicara seperti itu pada Noon?!”
Kenta : “Memangnya kenapa? Apa aku salah?”
Kama : “Tentu saja kakak salah! Kakak tidak berhak memarahi Noon!”
Kenta : “Tentu saja aku berhak, karena dia sudah mengajakmu membolos makanya aku berhak memarahi Noon. Kalau dia tidak mengajakmu membolos aku tidak akan memarahi dia. (Kama diam saja dan tidak mau melihat ke arah Kenta) Kama, apa kau sudah tahu kalau membolos itu salah? (Kama diam saja) Hei, kakak sedang bertanya padamu, kenapa tidak kau jawab?”
Kama : “Kakak juga sudah tahu jawabannya kenapa masih tanya?”
Kenta : “Kakak tidak tahu jawabannya, siapa bilang kakak tahu? Kalau adikku yang selama ini ku kenal pasti tahu kalau itu salah, tapi sepertinya yang ada di depanku sekarang ini hanya orang yang mirip adikku. (Kama melirik Kenta, Kenta tersenyum) Sekarang jawab pertanyaanku yang tadi.”
Kama : “Aku sudah tahu kalau itu salah.”
Kenta : “Hmm.. ternyata memang adikku. Kalau kau tahu itu salah kenapa kau lakukan?”
Kama : “Aku… aku… aku hanya ingin bersama dengan Noon lebih lama.”
Kenta : “Begitu ya? Sepertinya adikku sudah mulai buta karena cinta. (tertawa kecil) Hei, Kama, sekarang tatap mata kakak! (Kama menatap mata Kenta pelan-pelan) Kakak bisa mengerti kalau kau sangat menyayangi Noon, kakak juga sangat mendukung hal itu. Tapi kalau rasa sayangmu membuat kau jadi anak nakal kakak tidak akan setuju. Karena aku sudah mengenalmu dari kecil, maka aku bisa menyayangimu dan mengerti dirimu sepenuhnya. Tetapi Noon baru saja mengenalmu, dia memang sangat menyayangimu, tapi dia belum benar-benar bisa mengerti dirimu. Diantara kalian hanya kau yang paling mengerti dirimu sendiri, jadi buatlah dia mengerti dirimu lewat apa yang benar-benar ada dalam dirimu. Kakak yakin awalnya kau tidak mau ikut ajakan Noon untuk membolos. Benar kan? (Kama mengangguk kecil) Karena itu, kau harus punya pendirian yang kuat. Tidak selamanya Noon bisa disampingmu dan tidak selamanya kau bisa bergantung padanya. Jadi jangan seperti hari ini lagi ya? Mengerti?”
Kama : “Mengerti. (jeda) Kakak, maafkan aku. Aku berjanji akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi.”
Kenta : “Baiklah. (mengusap kepala Kama) Ini, minumlah. (menyodorkan gelas berisi air) Setelah itu cuci mukamu, lalu tidur. Besok kau harus ke sekolah. Kakak akan mengantarmu sampai sekolah. Selamat malam.”
Kama : “Selamat malam.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.