I hope you can give your comment or critics for my scenario, thank you… [Whitecoppy]
THINK 2
Sementara itu Seju sedang di wawancara oleh pembawa acara.
MC : “Tadi kudengar kau baru saja melerai orang yang sedang bertengkar. Apa benar?”
Seju : “Benar.”
MC : “Benarkah? Wah… mengesankan sekali. Apa kau bisa menceritakannya?”
Seju : “Tadi saat sudah ada di sini aku melihat ada 2 orang gadis sedang bertengkar. Kulihat salah satu dari mereka membawa posterku, jadi kupikir tidak ada salahnya aku membantu menyelesaikan masalah mereka. Ternyata salah satu dari mereka meributkan sesuatu yang mungkin bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sepele tapi dia bersikeras meminta gadis yang satunya meminta maaf.”
MC : “Jadi hanya karena salah satu dari mereka tidak mau minta maaf?”
Seju : “Begitulah.”
MC : “Lalu kudengar juga salah satu dari mereka tidak mengenalimu. Apa itu benar?”
Seju : “Benar. Setelah masalah selesai, dia tiba-tiba bertanya kepadaku ‘kau ini siapa ya?’ walaupun jujur, ini sangat mengejutkan bagiku, tapi dibalik itu aku menyadari kalau aku harus terus bekerja keras supaya bisa lebih dikenal banyak orang dan supaya tidak mengecewakan semua orang yang berharap padaku. Terutama kalian semua para penggemarku. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini dan kuharap kalian tidak akan berhenti mendukungku.”
Semua penggemarnya bertepuk tangan dan kompak berteriak:
Para penggemar : “Lee Seju Oppa Saranghae… Kami Selalu Mendukungmu!”
MC : “Waahh… sepertinya mereka sudah menyiapkannya. Baiklah kita bicarakan hal yang lain…”
Seju tersenyum melihat ke arah pembawa acara. Kama dan Kenta sudah pulang ke rumah mereka.
Kama & Kenta : “Kami sudah pulang.”
KKB : “Kenapa lama sekali?”
Kenta : “Tanya saja pada Kama.”
MKB : “Kama mana jaketmu?”
Kama : “Mama, maaf. Jaketku hilang. Aku salah mengambil jaket. Tadi waktu di tempat penitipan barang aku mengambil jaket bersamaan dengan orang lain, lalu karena aku terburu-buru aku tidak melihat apa yang kuambil. Aku baru sadar saat aku sudah keluar dan menghampiri kak Kenta. Lalu saat aku kembali jaketku sudah tidak ada dibawa orang yang mengambil barang denganku tadi. Mama maafkan aku…”
MKB : “Ya, sudahlah tidak apa-apa. Lain kali mama belikan jaket lagi. Tapi lain kali kau harus lebih hati-hati dan jangan ceroboh seperti ini, kau mengerti?”
Kama : “Hm, aku mengerti.” (mengangguk, hampir menangis)
KKB : “Baiklah, kalau begitu apa kau mau membantu kakek memasak?”
Kama : “Baik, aku mau.”
Esok harinya Kama sudah bersiap berangkat sekolah. Ia melihat jaket Noon, lalu mengangkatnya.
Kama : “Kalau aku bertemu lagi denganmu akan kuminta ganti rugi 2 kali lipat! Huh, dasar sial!” (bicara sendiri)
Kenta mengetuk pintu Kama.
Kenta : “Anak malas, cepat kita sudah hampir terlambat.”
Kama : “Baiklah. Aku sudah selesai. (melihat jaket Noon sekali lagi) Awas kau! (melempar jaket Noon ke tempat tidurnya lalu mengambil tas) Baiklah, sebentar.”
Kama dan Kenta naik bis. Tidak ada tempat duduk duntuk mereka berdua jadi mereka berdiri. Kenta menjaga Kama dengan berdiri di belakang Kama. Di bis itu juga ada CY yang juga berdiri. Saat itu ada orang yang melakukan pelecehan pada CY dia tidak berani berteriak tapi dia menangis. Kenta melihat hal itu lalu mendekat ke tempat CY. Kenta mengangkat tangan orang yang melecehkan CY.
Kenta : “Apa paman bisa sopan pada perempuan?”
F 2 : “Kau ini apa-apaan? Lepaskan tanganku!”
Kenta : “Minta maaf dulu padanya.”
F 2 : “Aku tidak melakukan apapun padanya untuk apa aku minta maaf?”
Kenta : “Minta maaf kubilang!” (membentak, semua orang melihat ke arah Kenta)
F 2 : “Kau ini lancang sekali. Kau juga pria kau pasti juga pernah melakukannya atau setidaknya kau ingin melakukannya juga. Benarkan?”
Kenta : “Saya bukan pria brengsek seperti anda. Sekarang cepat minta maaf atau kubawa anda ke kantor polisi.”
F 2 : “Ck, baiklah. (melihat CY dengan malu-malu) Maaf. Sekarang lepaskan tanganku!” (marah, langsung pergi)
F2 turun dari bis. Kenta melihat CY.
Kenta : “Kau tidak apa-apakan?”
CY : “Iya, terima kasih banyak.”
Kama berusaha mendekat ke tempat Kenta.
Kama : “Ada apa Kak?”
Kenta : “Tidak apa-apa.”
CY : “Kau juga bersekolah di SIES? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”
Kama : “Iya, aku baru masuk hari ini. Kenalkan namaku Kim Tae Hyang. Kau panggil saja aku Kama. Dia kakakku namanya Kim Tae Yo.”
Kenta : “Tae Yo.”
CY : “Namaku Min Chae Yun. Panggil saja Chae Yun.”
Kama : “Kenapa kau sepertinya baru saja menangis?”
Kenta : “Kalian sudah harus turun.”
Kama : “Hah?”
CY : “Ah, benar. Ayo kita turun.”
Kama : “Baiklah. Nanti jemput aku.”
Kenta : “Aku tahu.”
Kama dan CY turun dari bis. Mereka jalan bersama menuju ke sekolah.
Kama : “Chae Yun kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau tadi menangis?”
CY : “Hah?! Tidak. Tadi aku menguap sampai mataku berair. Aku tidak menangis.” (gugup)
Kama : “O, begitu.”
CY : “O, iya kau kelas berapa?”
Kama : “Kelas 2. Kau?”
CY : “Aku juga kelas 2. Apa kau tahu kau masuk di kelas 2 apa?”
Kama : “Entahlah, aku belum tahu, tapi kuharap kita bisa satu kelas.”
CY : “Benar, aku juga berharap seperti itu.”
Kama : “Eh, iya. Apa kau bisa menemaniku ke ruang kepala sekolah?”
CY : “Baiklah, nanti kuantar kau ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu.”
Kama : “Bagaimana kalau aku melihat kelasmu dulu?”
CY : “Sebenarnya tidak masalah, tapi kalau pagi kelasku pasti ramai.”
Kama : “Memangnya ada apa?”
CY : “Di kelasku ada 2 pria paling populer di sekolah ini. Yang pertama Jung Dong Sang, tapi dia biasa dipanggil Noon. Dia adalah anak pemilik yayasan SIES. Lalu yang kedua tentu saja Lee Seju. Kau tahu kan aktor serial idola akhir-akhir ini?”
Kama : “Aku tidak begitu tahu, tapi kemarin aku sudah lihat iklannya.”
CY : “Kau tidak menonton serialnya?”
Kama : “Aku kurang berminat pada serial drama seperti itu. Tapi kalau mama di rumah, aku terkadang menemaninya menonton serial drama.”
CY : “O, begitu ya?”
Kama : “Kemarin aku bertemu dengannya di tempat perbelanjaan.”
CY : “Benarkah? Bagaimana menurutmu?”
Kama : “Biasa saja, tapi aku senang kemarin dia membelaku. Kesan pertama yang cukup baik. Kemarin aku memaksa seseorang untuk minta maaf, kurasa dia adalah penggemar Seju. Aku tidak terlalu peduli, tapi berkat Seju masalah kami cepat selesai.”
CY : “O, begitu ya?”
Kama : “Tapi menurutku dia adalah tipe laki-laki pesolek yang mencintai diri sendiri. Benar tidak?”
CY : “Sebenarnya tidak bisa dibilang begitu juga, karena pada kenyataannya dia memang tampan. Apalagi dia artis, tidak salah juga kan kalau dia sedikit memuji diri sendiri?”
Kama : “Hm, kau benar juga.”
CY : “Ah, itu dia kantor kepala sekolah. Kau masuk saja.”
Kama : “Baiklah, terima kasih. Sampai berjumpa nanti.”
CY : “Hm, baiklah. Sampai jumpa.” (pergi)
Kama mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
Kama : “Permisi.”
Kepsek : “Ya, silahkan masuk.”
Kama : “Maaf, permisi saya murid pindahan baru.”
Kepsek : “O, ya. Tunggu sebentar saya panggilkan wali kelasmu. Kau duduk saja dulu.”
Kama : “Baik.”
Kama duduk. Kepsek menelepon. Kama membaca papan namanya bertuliskan: ‘Han Min Gook’
Kepsek : “Tolong panggilkan Ibu Shim ke kantor saya.” (menutup telepon)
Kama hanya tersenyum kecil pada Kepsek. Noon masuk. Kama melihat Noon, lalu langsung mengenalinya.
Noon : “Pak Han kudengar ada pesan dari ibu untukku.”
Kepsek : “Tuan muda sudah datang. Benar. Ini, saya diminta menyerahkan ini pada anda.”
Noon : “Kenapa tidak diantar kerumah?”
Kepsek : “Itu menyangkut data rahasia sekolah, jadi Nyonya besar meminta saya menye-rahkan ini di sekolah saja.”
Noon : “Apa ada yang lain?”
Kepsek : “Tidak ada, Tuan muda.”
Kama : “Kau!” (menunjuk Noon)
Noon : “Apa?”
Kama : “K… kau tidak ingat? Kemarin kau salah mengambil jaketku dan aku mengambil jaketmu. Apa kau ingat?”
Noon : “Ah, itu. Kenapa?”
Kama : “Kenapa?! Aku minta kau kembalikan jaketku sekarang.”
Noon : “Sudah kubuang.”
Kama : “Apa?! K.. kau… kau buang?!” (tergagap, tidak percaya)
Noon : “Iya, memangnya kenapa? Tidak mungkin kan aku naik motor sambil menggunakan jaket wanita warna pink?!”
Kama : “Baik, kalau begitu jaketmu juga akan kubuang.”
Noon : “Silahkan.” (cuek)
Kama : “Tidak bisa begitu! Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah sudah membuang barang milik orang lain?”
Noon : “Tidak.”
Kama : “Kau ini menyebalkan sekali!” (memukuli Noon)
Noon : “HEI! (Kama berhenti) Kau ini apa-apaan?! Pagi-pagi sudah membuat masalah. Pak Han siapa dia?”
Kepsek : “Dia murid pindahan baru di sini dan menurut rencana akan dimasukkan ke kelas yang sama dengan Tuan muda.”
Noon : “Apa?! Sekelas denganku?”
Kepsek : “Benar, tapi kalau Tuan muda tidak senang saya bisa menggantinya.”
Noon : “Ck.”
Ibu Shim datang. Noon melihat Kama terus sedangkan Kama membuang muka dan tidak mau melihat Noon.
Ibu Shim : “Permisi.”
Kepsek : “Ah, ibu Shim saya tidak jadi memasukkan murid ini ke kelas anda karena…”
Noon : “Jangan pindahkan dulu. Kau ikut denganku.” (pada Kama)
Kama : “Tidak mau! Aku tidak mau bicara dengan orang yang tidak bisa menghargai barang milik orang lain dan tidak tahu rasa bersalah sedikitpun.”
Noon : “Hei! Aku ingin membicarakan masalah ganti rugi denganmu.”
Kama : “Tidak perlu karena aku juga akan membuang jaketmu.”
Noon : “Jangan.”
Kama : “Kenapa? Kau sudah membuang jaketku. Kenapa aku tidak boleh membuang jaketmu? Lagipula tadi kau juga sudah mempersilahkanku untuk membuangnya.”
Noon menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah Ibu Shim dan Kepsek.
Noon : “Kalian keluarlah dan jangan mencoba untuk menguping.”
Ibu Shim & Kepsek : “Baik, Tuan muda.”
Ibu Shim dan Kepsek keluar. Kama terkejut dengan reaksi mereka.
Kama : “Kenapa kau seenaknya menyuruh mereka keluar?! Mereka kan guru!”
Noon : “Bukan urusanmu.”
Kama : “Aku tidak mau bicara denganmu!”
Noon : “Baiklah, aku pemilik sekolahan ini, jadi mereka sudah sepantasnya tunduk padaku.”
Kama masih terlihat cemberut. Noon duduk di sofa yang ada di situ.
Noon : “Duduklah.”
Kama duduk.
Kama : “Kau mau bicara apa?”
Noon : “Tolong kembalikan jaketku.”
Kama : “Tidak mau. Kau sudah membuang jaketku untuk apa aku mengembalikan jaketmu?”
Noon : “Karena… karena itu adalah jaket kesayanganku.”
Kama : “Kau juga membuang jaket baru yang paling kusukai.”
Noon : “Akan kubelikan jaket baru berapapun kau mau. Tapi tolong kembalikan jaketku.”
Kama : “Kau ini. Ck, hei! Kau ini tidak tahu rasa bersalah ya? Apa kau lupa kau sudah membuang jaketku? Dan sekarang dengan santai kau bilang ‘akan kubelikan jaket baru berapapun kau mau’ kau pikir aku ini gadis apaan?”
Noon : “Memangnya aku bisa berpikir kau ini seperti apa, selain kau ini cerewet dan berbelit-belit? Ha?!”
Kama : “A… apa?! Hengh… baiklah sekarang kau sendiri. Tadi kau bilang aku boleh membuang jaketku kenapa sekarang kau bilang aku tidak boleh membuangnya dan malah menawariku jaket berapapun aku mau sebagai gantinya? Apa kau pikir itu tidak berbelit-belit?”
Noon : “Baiklah, sekarang kau mau apa?”
Kama : “Kau sendiri?”
Noon : “Sudah jelas kan? Aku mau kau mengembalikan jaketku.”
Kama : “Kau… Baiklah, baiklah begini saja. Jujur aku penasaran kenapa kau begitu menginginkan jaket itu? Menurutku itu hanya jaket kulit tua yang sudah tidak model. Lagipula kau ini seorang tuan muda yang jelas tidak mungkin tidak mampu membeli jaket lain yang lebih modis. Benarkan? (Noon diam saja) Hei, benar tidak?”
Noon : “Benar.” (cuek bercampur sebal)
Kama : “Nah, kalau begitu sekarang ceritakan. Apa istimewanya jaket itu untukmu?”
Noon : “Aku akan cerita tapi kau jangan cerita pada siapapun.”
Kama : “Baiklah, aku akan menyimpan rahasia.”
Noon : “Jaket itu hadiah dari ayahku dan dulunya itu adalah milik ayahku.”
Kama : “Lalu?”
Noon : “Apanya yang lalu?”
Kama : “Hanya seperti itu?”
Noon : “Maksudmu?”
Kama : “Ngg… apa itu satu-satunya hadiah yang diberikan ayahmu?”
Noon : “Begitulah.” (sambil menghembuskan nafas dalam)
Kama : “Hadiah satu-satunya?! Hei, apa dulu kau begitu miskin?”
Noon : “Kau ini suka sekali mencampuri urusan orang lain. Pokoknya aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang kuminta kau mengembalikan jaketku!”
Kama : “Baik, baik, akan kukembalikan. Tapi aku harus mengambilnya dulu di rumahku.”
Noon : “Nanti kau kuantar pulang. Bilang pada supirmu untuk tidak menjemput.”
Kama : “Hari ini aku dijemput kakakku. Kami naik bis.”
Noon : “Benarkah?! Apa kau termasuk murid beasiswa?”
Kama : “Tidak, memangnya kenapa?”
Noon : “Kau tidak ada tampang murid beasiswa. Mukamu itu…”
Kama : “Apa?! Ada apa dengan mukaku?!! Ha?!!”
Noon : “Kelihatan bodoh.”
Kama : “Apa?!! Kau juga tidak kelihatan pintar!!” (marah)
Noon : “Sudahlah ayo.” (berdiri)
Kama : “Kemana?”
Noon : “Apa kau lupa tadi Pak Han bilang apa?”
Kama : “Pak Han? (melihat ke papan nama yang ada di meja) Oh, kepala sekolah? Memangnya beliau bilang apa?”
Noon : “Kau sekelas denganku.” (diberi penekanan)
Kama : “Oh, baiklah.”
Noon jalan duluan, Kama mengikuti di belakangnya. Mereka sudah sampai di depan kelas.
Noon : “Ini kelasnya.”
Kama : “Eh, tunggu.”
Noon : “Apa lagi?”
Kama : “Namamu siapa?”
Noon : “Apa perlu?”
Kama : “Baiklah, terserah tapi aku gugup sekali.”
Noon : “Lalu apa hubungannya denganku?”
Kama : “Kumohon temani aku perkenalan di depan kelas.”
Noon : “Tidak mau.”
Kama : “Kau tidak mau menemaniku jaketmu tidak kukembalikan.”
Noon : “Kau mengancamku?”
Kama : “Iya, memangnya kenapa?”
Noon : “Ck, baiklah. Ayo masuk!”
Noon masuk. Lalu memberi isyarat pada Pak Kwon yang sedang mengajar untuk menyingkir dari tempatnya berdiri/ di depan papan tulis.
Noon : “Perhatian semuanya! Kita punya teman baru. (melihat ke arah Kama yang diam saja) Psst, perkenalkan dirimu.” (berbisik)
Kama : “Hah? Oh, baiklah. (maju agak ke depan) Hai semuanya, namaku Kim Tae Hyang. Kalian bisa memanggilku Kama. Mohon bantuannya.”
THINK 3
Kama tersenyum lebar ke arah semua murid di kelas. Noon terlihat cuek, lalu berjalan ke mejanya.
Kama : “Eh, ngg… siapa namanya? Maaf, Pak saya duduk dimana ya?”
Pak Kwon : “Kau bisa duduk di sebelah sana.” (menunjuk kursi kosong di sebelah MJ)
Kama : “Baiklah.”
Kama berjalan ke meja yang ditunjuk Pak Kwon.
Kama : “Hai, salam kenal. Namamu siapa?” (pada MJ)
MJ : “Min Jae. Song Min Jae”
Kama : “Oh, mohon bantuanmu Min Jae.”
MJ hanya tersenyum singkat. Kama melihat ke arah Noon. Noon sedang mendengarkan MP3 dengan headset.
Kama : “Eh, Min Jae, nama orang itu siapa sih?”
MJ : “Orang itu? Siapa?”
Kama : “Itu yang sedang mendengarkan sesuatu dengan headset di pojok sana.”
MJ menoleh ke arah yang ditunjukkan Kama.
MJ : “Kenapa? Kau suka padanya?”
Kama : “Tidak, tadi aku menanyai namanya dia tidak mau menjawab.”
MJ : “Namanya Dong Sang, teman-teman biasa memanggilnya Noon.”
Kama : “Dong Sang? Noon? Sepertinya aku pernah dengar namanya.”
MJ : “Dia anak pemilik yayasan SIES dan merupakan anak terkaya se-Asia.”
Kama : “Ah, salah satu murid yang paling populer di kelas ini kan?” (tidak terlalu menggubris omongan MJ, karena mengingat-ingat)
MJ : “Ya, dan kuperingatkan sejak awal. Jangan pernah menyukai Noon! Mengerti?”
Kama : “Aku juga tidak berminat menyukainya.”
MJ : “Baguslah kalau begitu.”
Kama hanya tersenyum.
Pak Kwon : “Selain Lee Sung Ju ada lagi yang tidak masuk hari ini?”
Semua murid : “Tidak ada Pak~”
Pak Kwon : “Baiklah, kalau begitu kita mulai pelajarannya.”
Saat sedang pelajaran Kama memperhatikan dengan serius. MJ meliriknya, lalu mengajak Kama bicara.
MJ : “Eh, (Kama menoleh) Apa kau punya hubungan khusus dengan Noon?”
Kama : “Tidak. Memangnya kenapa?”
MJ : “Aneh, tidak biasanya Noon mau bicara di depan kelas, apalagi hanya untuk memperkenalkan murid baru. Apa ada sesuatu diantara kalian?”
Kama : “Tidak. Kau ini kenapa tanya-tanya seperti itu?”
MJ : “Kau pasti sudah melakukan sesuatu padanya kan?”
Kama : “Kau ini kenapa sih?” (mulai jengkel)
MJ : “Katakan dengan jujur. Kenapa tadi Noon mau membantumu perkenalan di depan kelas? Pasti ada sesuatu diantara kalian kan?”
Kama : “Tidak. Aku tadi hanya meminta Noon membantuku berkenalan di depan lalu dia menyanggupinya. Memangnya kenapa?”
MJ : “Benarkah hanya seperti itu?”
Kama : “Benar.”
MJ : “Kau anak kerabat dekat Bibi ya?”
Kama : “Bibi siapa?”
MJ : “Tentu saja ibu Noon.”
Kama : “Tidak, ibu Noon siapa saja aku tidak tahu.”
MJ : “Hengh… ya sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja.”
Kama : “Tenang saja aku tidak tertarik pada Noon.”
MJ : “Baguslah kalau kau mengerti.”
Saat istirahat hanya Noon, Kama, dan CY saja yang di kelas. CY dan Kama duduk bersebelahan.
Kama : “Tadi sepertinya kau menangis. Memangnya ada masalah apa?”
CY : “Sebenarnya hanya masalah yang biasa terjadi, tapi sampai sekarang aku belum bisa menerimanya begitu saja.”
Kama : “Memangnya paman tadi melakukan apa padamu?”
CY : “Kemarikan telingamu.”
CY berbisik pada Kama, setelah itu Kama langsung terperangah.
Kama : “Benarkah?! Ya ampun… kenapa kau diam saja tadi?”
CY : “Aku tidak tahu harus berbuat apa.”
Kama : “Hengh… ya sudahlah, lain kali kau harus lebih berhati-hati.”
CY sudah hampir menangis lagi. Kama berusaha menenangkannya. Noon menghampiri Kama.
Noon : “Hei, Kama, apa kau sudah menelepon kakakmu untuk tidak menjemputmu?”
Kama : “Belum.”
Noon : “Lebih baik kau telepon sekarang saja. Mobilku hanya bisa untuk 2 orang saja.”
Kama : “Baiklah, sebentar.”
Kama menelepon Kenta.
Kama : “Kak, kakak nanti tidak usah menjemputku. Aku diantar pulang temanku. Kakak langsung pulang saja. Hm. Baiklah, nanti bertemu di rumah.”
Kama menutup teleponnya.
Kama : “Sudah.”
Noon : “Aku minta nomor ponselmu.”
Kama : “Untuk apa?”
Noon : “Hanya untuk jaga-jaga saja siapa tahu kau lupa.”
Kama : “Ck, kau ini. Mana ponselmu.”
Noon memberikan ponselnya dan Kama memasukkan nomornya.
Kama : “Sudah.”
Noon : “(langsung mengambil ponselnya) Aku pergi dulu. Nanti kau tunggu aku di sini saja.”
Kama : “Setelah ini kan masih ada pelajaran. Kau mau kemana memangnya?”
Noon : “Bukan urusanmu.”
Kama : “Ck, dasar. (Noon sudah pergi) Eh, iya aku minta nomormu! Hei! Menyebalkan sekali.”
Noon pergi. Air muka CY langsung berubah jadi terkejut.
CY : “Kau terlihat akrab sekali dengan Noon.”
Kama : “Memangnya kenapa?”
CY : “Tidak biasa saja. Eh iya, ceritakan padaku. Bagaimana tadi kau bisa datang bersama dengan Noon?”
Kama : “Masalah tadi?” (santai)
CY : “Iya.” (antusias)
Kama : “Hengh, sebenarnya tadi kami sedikit bertengkar, tapi untunglah dia mau menemaniku perkenalan di depan. Begitulah.”
CY : “Sedikit bertengkar? Bertengkar masalah apa?”
Kama : “Kau ini sama seperti Min Jae. Tadi dia juga banyak bertanya masalah bagaimana aku bisa datang bersama dengan Noon. Memangnya dia begitu istimewa ya? Hanya anak pemilik yayasan apa istimewanya?”
CY : “Sebenarnya bukan hanya masalah itu. Noon itu terkenal jarang bicara dan sangat tertutup. Dia jarang masuk sekolah, tapi dia sangat pintar. Nilainya tidak pernah tidak sempurna. Pasti selalu sempurna dan dia juga juara dibanyak bidang mata pelajaran terutama pelajaran matematika, kimia, dan olahraga. Dia juga sangat hebat dalam beladiri terutama taekwondo dan hap ki do. Pokoknya dia itu pria paling sempurna yang pernah ada. Tapi sayangnya dia sangat dingin dan sulit didekati.”
Kama : “Apa kau juga menyukainya?”
CY : “Dulu, tapi sekarang aku hanya penasaran saja padanya. Banyak sekali yang suka padanya, saat pesta dansa berpasangan tahun lalu banyak yang berebut menjadi pasangan dansanya, tapi Noon menolak semuanya dan memilih pergi ke luar negeri.”
Kama : “Benarkah? Hengh… kupikir lebih banyak yang suka Lee Seju, tapi kelihatannya aku salah.”
CY : “Kalau menurutku, Seju itu termasuk populer di sini karena selain dia artis dia juga sangat ramah dan tidak sombong. Tidak seperti Noon.”
Kama : “Eh, iya tadi kau bilang kita sekelas dengan Lee Seju juga, tapi aku tidak melihat dia di kelas.”
CY : “Hari ini dia tidak masuk. Kau tidak dengar tadi Pak Kwon bilang Lee Seung Ju tidak masuk?”
Kama : “Memang namanya Lee Seung Ju?”
CY : “Hm… (mengiyakan) Lee Seju hanya nama panggungnya. Dulu dia lebih suka dipanggil Seju daripada Seung Ju, tapi sekarang dia sepertinya jadi tidak terlalu suka dipanggil Seju. Tidak jelas kenapa.”
Kama : “Dulu? Sepertnya kau sudah lama mengenal Seung Ju.”
CY : “Begitulah. Sejak SD aku, Min Jae, Seju, Kang Doo dan Geun Sha selalu sekelas.”
Kama : “Kalau Noon?”
CY : “Aku baru saat SMA ini sekelas dengan Noon. Dari dulu Noon ada di kelas yang khusus dan dijaga banyak pengawal. Setiap 2 kali dalam 1 bulan dia berbaur dengan kelas biasa. Saat seperti itu tentu saja sangat menarik perhatian. Min Jae selalu tampak ramah dan perhatian pada Noon. Tapi Noon selalu diam dan tidak banyak komentar bahkan bisa dibilang dia cenderung tidak memperhatikan Min Jae, malah sepertinya dia terlihat jijik pada Min Jae. Lagipula Noon itu tidak pernah mendengarkan guru yang mengajar, jadi teman-teman sekelas tidak ada yang bisa dekat dengan dia. Selain itu tidak ada yang berani dengan para pengawalnya.”
Kama : “Waaahhh… apa dia begitu hebatnya?”
CY : “Begitulah, tapi aku maklum saja. Orang tuanya kan pemilik serikat besar Park, jadi ya wajar saja kalau dia begitu sombong.”
Kama : “Lalu kenapa sekarang dia tidak pernah bersama pengawalnya?”
CY : “Entahlah. Masalah Noon itu terlalu misterius. Tidak banyak orang yang tahu tentang dia. Tapi jangan sampai pengawalnya ada di kelas ini, bisa-bisa suasana kelas jadi sangat tegang. Hiii… benar-benar menakutkan.”
Kama : “Waahh… apa itu tidak berlebihan?”
CY : “Tidak, ini kenyataan. Sudahlah, lama kelamaan kau pasti juga tau sendiri. Eh, iya kapan-kapan aku boleh main ke rumahmu tidak?”
Kama : “Tentu saja boleh. Kenapa kau ingin ke rumahku?”
CY : “Tidak. Eh, kakakmu belum punya pacar kan?”
Kama : “Setahuku belum. Dia hanya suka belajar dan baca buku, jarang keluar rumah dan jauh lebih suka bermain game daripada jalan-jalan keluar.”
CY : “Begitu ya? Dia suka game apa?”
Kama : “Kau suka kakakku ya?”
CY : “Tidak, tadi kan dia sudah menolongku jadi kurasa tidak ada salahnya kalau aku membalas budi padanya.”
Kama : “(tertawa) Sudahlah, tidak usah bohong kau suka kakakku kan?”
CY : “Baiklah, karena sudah ketahuan kurasa begitu tapi entahlah. Kalau aku memang suka apa kau mau membantuku?”
Kama : “Tentu saja. Kau kan temanku.”
CY : “Terima kasih.”
Saat pulang sekolah. Kama sudah keluar kelas dengan CY. Kama menerima telepon dari Noon.
Noon : “Jangan meninggalkan kelas sebelum aku datang atau kubunuh kau!” (langsung mematikan ponselnya)
Kama : “Apa?! Hei!”
CY : “Siapa?”
Kama : “Entahlah. Aku tidak tahu ini nomor siapa. Dia bilang dia ingin membunuhku kalau aku meninggalkan kelas.”
CY : “Mungkin orang iseng. Ayo kita pulang saja.”
Kama : “Baiklah.”
Sampai di gerbang sekolah.
Kama : “Mana kakakku?”
CY : “Ya ampun Kama!”
Kama : “Apa?”
CY : “Bukankah tadi kau sudah janji pada Noon untuk menunggunya di kelas?”
Kama : “Ah, iya aku lupa.” (terkejut sendiri)
CY : “Cepat kau kembali ke kelas, kalau kau tidak mau mencari masalah dengannya.”
Kama : “Baiklah. Sampai jumpa.” (lari sambil melambaikan tangan pada CY)
Kama berlari ke kelas. Noon menelepon Kama dari kelas.
Noon : “Hei! Bukankah sudah kubilang jangan meninggalkan kelas sebelum aku datang?!”
Kama : “Iya ini aku sedang dalam perjalanan ke kelas.” (berlari)
Sementara itu MJ teringat kalau barangnya ada yang tertinggal di kelas. Lalu dia memutuskan untuk kembali ke kelas. Kama sudah sampai kelas.
Kama : “Aku sudah kembali.” (terengah-engah)
Noon : “Bagus, ayo ikut aku.”
Kama : “Tunggu, tunggu sebentar biar aku beristirahat sebentar. Aku baru saja berlari-lari dari pintu gerbang kemari. Benar-benar melelahkan.”
Noon : “Salahmu sendiri tidak mendengarkanku. Bukankah sudah kubilang tidak usah meninggalkan kelas dulu sebelum aku datang?”
Kama : “Iya, iya aku tahu. Sudahlah, aku kan sudah sampai sini. Kau ini laki-laki tapi kenapa kau cerewet sekali?! Menyebalkan.”
Noon : “Kau bilang apa?! Aku cerewet?!”
Kama : “Apa?! Kau mau marah?”
Noon : “Hengh… lupakan.” (mengibaskan tangan)
Noon duduk.
Noon : “Sudah belum?”
Kama : “Sebentar. Eh, aku haus bagaimana kalau beli minum sebentar?”
Noon : “Tidak bisa. Aku tidak punya banyak waktu. Sudahlah cepat kita pergi!”
Kama : “Ck! Baiklah.” (cemberut)
Kama berjalan mengikuti Noon. Saat sedang perjalanan mereka bertemu dengan MJ.
MJ : “Noon, kau baru mau pulang?”
Noon tidak memperhatikannya.
Kama : “Hai Min Jae.”
MJ : “Hai. Eh, apa kau… mau pergi dengan Noon?”
Kama : “(mengangguk sambil tersenyum) Iya, aku pulang dengannya.”
Noon : “Hei, cepat!”
Kama : “Iya! Sudah dulu ya.” (melambaikan tangan sambil tersenyum)
Noon menarik tangan Kama.
Kama : “Aaauu… Noon lepaskan! Kau ini kenapa sih?!”
Noon : “Ini karena kau tidak bisa jalan cepat.”
Kama : “Iya, iya, aku jalan cepat, tapi lepaskan tanganku!”
MJ terlihat tidak senang dan marah.
Dia hanya berdiri di tempatnya. Saat di tempat parkir mereka menarik perhatian banyak orang. Banyak yang berbisik-bisik melihat mereka.
Noon : “Cepat masuk!”
Kama : “Baik, tapi tidak usah membentak seperti itu apa tidak bisa?”
Noon hanya melihat Kama dengan tajam.
Kama : “Baik, aku masuk.”
Kama masuk ke mobil, Noon menutup pintu mobil. Mereka pergi ke rumah Kama. Sampai di rumah Kama.
Noon : “Ini rumahmu?”
Kama : “Kau tunggu di sini atau ikut masuk?”
Noon : “Aku tunggu di sini saja.”
Kama : “Baiklah.”
Kama masuk. Noon keluar dari mobil dan melihat bagian depan rumah Kama. Tidak beberapa lama Kama keluar membawa jaket Noon.
Kama : “Ini jaketmu.”
Noon : “Baiklah, terima kasih.” (melihat jaketnya)
Noon masuk ke mobilnya. Kama tersenyum masam saat Noon membunyikan klakson tanda memberi salam. Setelah beberapa meter. Noon melihat Kama dari spion mobilnya, lalu melihat jaketnya. Setelah sedikit berpikir dia memutuskan untuk kembali ke rumah Kama. Kama baru akan masuk ke dalam rumah. Noon membunyikan klakson. Kama menoleh. Noon keluar dari mobil dan menghampiri Kama.
Kama : “Apa lagi?”
Noon : “Ayo ikut aku.”
Kama : “Kemana?”
Noon : “Aku merasa tidak enak sudah membuang jaketmu jadi aku akan menggantinya. Terserah kau mau pilih yang mana dan berapa.”
Kama : “Tidak usah.”
Noon : “Eh, tunggu.”
Kama melihat Noon dengan bingung. Noon jadi sedikit gugup.
Noon : “Aku… ngg… bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
Kama : “Jalan-jalan?”
Noon : “Anggap saja aku berterima kasih padamu karena sudah mengembalikan jaketku.”
Kama : “Tidak, aku capek sekali hari ini. Aku mau tidur.”
Noon : “Kalau kau menolak, kujamin kau tidak bisa masuk sekolah besok.”
Kama : “Apa?!” (terkejut)
Kama ikut Noon. Mereka pergi ke Ming Dong. Sampai di sana.
Noon : “Kau ikut aku.”
Kama : “Iya aku tahu.”
Noon : “Kau pilih saja yang kau mau.”
Kama : “Kau mau membelikan untukku?”
Noon : “Anggap saja ganti rugi.”
Kama : “Baiklah.”
Kama dan Noon berjalan melihat-lihat. Kama hanya mencoba beberapa pakaian, tapi tidak membelinya. Mereka sudah seharian berkeliling, tapi Kama belum juga menentukan pilihannya. Noon mulai emosi.
Noon : “Kau ini sebenarnya mau beli tidak sih?!”
Kama : “Kenapa marah? Kalau belanja memang seperti ini kan? Nanti kalau sudah beli tapi malah kecewa kita sendiri yang rugi. Kau ini bagaimana.”
Noon : “Ck. (Noon menelepon seseorang) Pak Min, cepat ke Ming Dong sekarang.”
Kama : “Kenapa? Kau menyuruh orang ke sini?”
Noon : “Aku sudah capek. Dari tadi jalan kesana kemari tapi tidak ada satupun yang kau beli. Nanti kau di temani Pak Min saja, dia itu baik hati dan sabar. Kau pilih saja sesukamu.”
Kama : “Ck, ck, ck, ck, ck… kau ini. Sebenarnya kau ini niat ganti rugi tidak sih?”
Noon : “Aku niat ganti rugi, tapi kau! Membuatku muak.”
Kama : “Ya sudah kalau begitu, tidak usah saja. Aku pulang. Maaf sudah membuatmu capek dan muak padaku.”
Kama pergi. Noon bingung.
Noon : “Hei! Kenapa kau marah?!”
Kama tidak mempedulikan Noon. Semua pegawai dan orang yang ada di situ melihat Noon.
Noon : “Lihat apa?! Kalian semua kupecat!” (pada para pegawai)
Noon pergi ke kantor direksi. Sampai di kantor dia langsung duduk di kursi dan terlihat masih marah.
Noon : “Sial! Ck, (menelepon dengan telepon kantor) Tolong antarkan laporan barang untuk bulan November sampai Desember.”
Sementara itu Kama sedang menunggu bis sambil menggerutu.
Kama : “Dasar menyebalkan! Memilih baju kan memang lama. Dasar jelek!”
Sementara itu di tempat Noon. Noon sudah sibuk dengan kertas2 laporan dan manager yang memberikan laporan dan keterangan. Pak Min datang.
Pak Min : “Pemisi, Tuan muda.”
Noon : “Masuk saja.”
Pak Min masuk. Noon bicara dengan manager.
Noon : “Ngg… sebenarnya aku sedang mencari jaket berwarna merah jambu dengan bulu-bulu di pinggirannya, kainnya sedikit berat tapi elastis. Ukurannya kira-kira M.”
Manager dan Pak Min diam berpikir. Noon melihat mereka berdua.
Manager : “Sepertinya saya tahu yang anda maksud. Sebentar saya ambilkan barangnya.”
Noon : “Baiklah, cepat.”
Manager pergi. Noon diam saja bersama dengan Pak Min.
Pak Min : “Sebenarnya ada keperluan apa Tuan muda memanggil saya?”
Noon : “Tidak. Tolong rapikan beberapa materi di sini dan siapkan di rumah. Akan kuperiksa nanti malam.”
Pak Min : “Baik, Tuan muda.”
Noon pergi dari mejanya dan duduk di sofa. Dia terlihat lelah sekali. Manager datang membawa sebuah jaket.
Manager : “Apa ini yang anda inginkan?”
Noon : “Benar itu.”
Manager : “Ini barang yang baru datang minggu lalu.”
Noon : “Kenapa aku tidak lihat di daftar laporan bulan ini?”
Manager : “Ini masuk laporan bulan Desember-Januari karena ini adalah jaket keluaran terbaru dan baru akan dipasarkan pertengahan Desember ini.”
Noon : “Oh, begitu. Apa bisa kuambil?”
Manager : “Tentu saja, Tuan muda. Silahkan.”
Noon : “Kau bisa pergi.”
Manager : “Baik, Tuan muda. Saya permisi.” (menunduk)
Noon melirik jaket pink di mejanya, lalu buru-buru memanggil manager.
Noon : “Eh, tunggu.”
Manager berbalik.
Manager : “Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan muda.”
Noon : “Tolong bungkuskan yang rapi dan bagus.”
Manager : “Apakah perlu tampak mewah?”
Noon : “Kurasa lebih baik kalau tampak cantik atau lucu daripada tampak mewah.”
Manager : “Kalau begitu Tuan muda ingin motif bunga atau boneka?”
Noon : “(diam sebentar) Boneka beruang.”
Manager : “Baik, akan segera saya siapkan. Saya permisi.”
Noon : “Hm.”
Pak Choi yang sedang merapikan dokumen tersenyum melirik Noon.
Pak Choi : “Sebelumnya maaf kalau saya lancang, tapi kalau saya boleh bertanya. Apa Tuan muda sudah mempunyai kekasih?” (sambil tersenyum)
Noon : “Hah? Oh, yang tadi? Tidak, itu bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk tanda minta maaf saja.”
Pak Choi : “Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Tuan muda sudah mulai berubah jadi pria dewasa yang sudah bisa melihat sekitarnya. Saya ikut merasa senang untuk anda.”
Noon : “Terima kasih. Kau selesaikan saja tugasmu. Taruh semuanya di ruang kerjaku.”
Pak Choi : “Baik, Tuan muda.”
Noon pergi. Noon pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang megah dia hanya memarkirkan mobil di depan pintu lalu diurus oleh pelayan yang sudah bertugas di situ untuk memarkirkan mobil. Noon mandi, setelah itu dia makan sendirian dengan beberapa pelayan yang berjajar untuk melayaninya. Noon masih teringat saat Kama marah padanya.
Kama : “Kenapa marah? Kalau belanja memang seperti ini kan? Nanti kalau sudah beli tapi malah kecewa kita sendiri kan yang rugi. Kau ini bagaimana.”
Kama : “Ya sudah kalau begitu, tidak usah saja. Aku pulang. Maaf sudah membuatmu capek.”
Dia melihat pelayan perempuan yang ada di sampingnya. Dia memberi kode untuk mendekat.
Pelayan : “Apa ada yang dibutuhkan lagi, Tuan muda?”
Noon : “Aku mau tanya dan kau harus jawab dengan jujur. Apa kalau kau belanja pakaian pasti lama?”
Pelayan : “Apa?” (terkejut)
Noon : “Jawab saja dengan jujur.”
Pelayan : “Ngg… Tergantung keadaan. Kalau sudah langsung menemukan yang cocok bisa cepat, tapi kalau belum menemukan yang cocok bisa lama bahkan terkadang tidak beli.”
Noon : “Begitu ya? Aku sudah selesai.”
Pelayan : “Baik. Selamat malam, Tuan muda.”
Noon pergi, tanpa mempedulikan pelayan. Dia masuk ke ruang kerjanya diikuti Pak Min. Saat di ruang kerjanya, Noon melihat bungkusan untuk Kama.
Pak Min : “Saya menaruhnya di sini, karena…” (dipotong Noon)
Noon : “Bagaimana laporan bulan November-Desember?” (cuek dan duduk di kursinya)
Pak Min : “Eh? Ehm, saya sudah merapikan dan mengecek semua berkas-berkas itu. Semuanya sudah cocok dengan catatan laporan harian.”
Noon : “Benarkah? Baiklah, nanti kuperiksa sekilas saja kalau begitu.”
Pak Min : “Maaf, saya hanya ingin mengingatkan saja kalau besok anda ada rapat dengan beberapa anggota direksi.”
Noon : “Hm, aku tahu. Jam berapa rapatnya?”
Pak Min : “Jam 11 pagi, Tuan muda.”
Noon : “Hm, kalau memungkinkan besok aku juga ingin rapat dengan tim konsultan. Suruh mereka menyiapkan rancangan sasaran pasar tahun depan.”
Pak Min : “Baik, akan saya atur Tuan muda.”
Noon : “Kau bisa istirahat sekarang. Terima kasih untuk hari ini.”
Pak Min : “Tapi tugas saya baru selesai setelah Tuan muda menyelesaikan tugas Tuan muda.”
Noon : “Aku sebentar lagi sudah pergi tidur. Kau pergilah istirahat.”
Pak Min : “Terima kasih, Tuan muda. Selamat malam.”
Noon : “Hm.”
Noon masih duduk di tempatnya.